20 Mei 2012

Analisis Kasus Konversi Lahan Pesisir di Sumatera Utara


Analisis Kasus Konversi Lahan Pesisir
di Sumatera Utara

A. IDENTIFIKASI DATA
Hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai dimana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu

Ekosistem hutan bakau bersifat khas, baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah, salinitas tanahnya yang tinggi, serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini, dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.

Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia, terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika. Luas hutan bakau Indonesia antara 2,5 hingga 4,5 juta hektar, merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha) (Spalding dkk, 1997 dalam Noor dkk, 1999).

Di Indonesia, hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Yakni di pantai timur Sumatra, dan pantai barat serta selatan Kalimantan. Di pantai utara Jawa, hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.

Di bagian timur Indonesia, di tepi Dangkalan Sahul, hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua, terutama di sekitar Teluk Bintuni. Mangrove di Papua mencapai luas 1,3 juta ha, sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.

a.     FISIK
Jenis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah:

Jenis tanah

Sebagai wilayah pengendapan, substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Akan tetapi di beberapa tempat, bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya; bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut.

Terpaan ombak

Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.
Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai, yakni yang terletak di tepi sungai. Perbedaannya, salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi, terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar.

Penggenangan oleh air pasang

Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya, bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Pada pihak lain, bagian-bagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.
Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini, secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove, yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut, hingga ke pedalaman yang relatif kering.

Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini.

Di bagian lebih ke dalam, yang masih tergenang pasang tinggi, biasa ditemui campuran bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.), kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan di dekat tepi sungai, yang lebih tawar airnya, biasa ditemui nipah (Nypa fruticans), pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp.).
Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.), teruntum (Lumnitzera racemosa), dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).





1. Daya Adaptasi Mangrove Terhadap Lingkungan
Jenis-jenis tumbuhan Mangrove ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas, sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan tersebut adalah:
1. Fisiografi pantai (topografi)                       5. Salinitas                  
2. Pasang (lama, durasi, rentang)                  6. Oksigen terlarut
3. Gelombang dan arus                                7. Tanah
4. Iklim (cahaya,curah hujan, suhu, angin)     8. Hara

2. Definisi Dan Ekosistem Mangrove
Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000). 

Dalam suatu paparan mangrove di suatu daerah tidak harus terdapat semua jenis spesies mangrove (Hutching and Saenger, 1987 dalam Idawaty, 1999). Formasi hutan mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kekeringan, energi gelombang, kondisi pasang surut, sedimentasi, mineralogi, efek neotektonik (Jenning and Bird, 1967 dalam Idawaty, 1999). Sedangkan IUCN (1993), menyebutkan bahwa komposisi spesies dan karakteristik hutan mangrove tergantung pada faktor-faktor cuaca, bentuk lahan pesisir, jarak antar pasang surut air laut, ketersediaan air tawar, dan tipe tanah. 


3. Arti Penting Ekosistem Mangrove
Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut. Sedangkan ekosistem lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai penjebak sedimen (sedimen trap) sehingga sedimen tersebut tidak mengganggu kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut. Ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu karang.


4. Pemahaman Kondisi Wilayah
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam membangun kesadaran masyarakat antara lain: diskusi bersama masyarakat untuk memahami kondisi pantai saat ini dan dulu, mengiden-tifikasi dan menyadari bersama dampak hilang/rusaknya mangrove, menentukan dan menyepakati bersama solusi mengatasi masalah akibat hilang/rusaknya mangrove, studi banding untuk meyakini dan memperluas wawasan tentang manfaat mangrove, perencanaan dan pelaksanaan bersama penanaman mangrove, dan pembentukan kelompok masyarakat pengelola dan pelestari mangrove.
Je n i s - jenis  M a n g r o v e :

1. Aegiceras corniculantum    12. Rhizopora apiculata           23. Ceriops decandra
2. Rhizopora lamarckii           13. Pemphis acidula                24. Sonneratia alba
3. Avicennia officinalis           
14. Xylocarpus moluccensis    25. Lumnitzera racemosa
4. Aegiceras floridum            
15. Rhizopora stylosa             26. Rhizopora mucronata
5. Heritirea littoralis               
16. Lumnitzera racemosa        27. Bruguiera parviflora
6. Bruguiera gymnorrhiza       
17. Xylocarpus rumphii          28. Excoecaria agallocha
7. Bruguiera cylindrica           
18. Avicennia officinalis          29. Xylocarpus granatum
8. Avi cen ni a al ba                         
19. Ceriops tagal                    30. Nypa fruticans
9. Avicennia marina               
20. lLumnitzera littorea           31. Osbornia octodona
10. Avicennia lanata               21. Bruguiera sexangula
11.
Bruguiera cylindrica          22. Sonneratia caseolaris


Interaksi Mangrove
Lahan hutan mangrove yang terbentang di pesisir sumatera utara memiliki luas hampir 1000 hektar. Dan luas hutan bakaunya mencapai 287.585 hektar yang berada disepanjang hilir Pantai Timur. Luas kawasannya mulai dari Tanjung Balai Asahan, Serdang Bedagai, Batubara, Percut Deli Serdang, hingga kawasan hutan mangrove di Kabupaten Langkat. Gugusan hutan mangrove terbesar di pulau Sumatera. 

Dengan luas lahan yang ada, lahan mangrove ini kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menjalankan roda perekonomiannya. Masyarakat setempat dapat mengambil kayu, dedaunan dari pohon mangrove dan biota perairan yang hidup di wilayah perairan mangrove untuk mencukupi kebutuhannya. Hutan mangrove ini juga mampu memberikan banyak manfaat bagi stabilitas lingkungan sekitar yang dapat ditinjau dari sisi ekologisnya sebagai penghalang erosi garis pantai, angin ribut dan gelombang laut. Selain menguntungkan dari segi ekonomi dan ekologi, hutan mangrove juga berperan sebagai tempat berkembang biak (nursery ground), pemijahan (spawning ground), dan mencari makan (feeding ground) bagi biota perairan dan hewan darat mangrove.

1. Permasalahan
Hal-hal utama yang menjadi permasalahan dan penyebabnya antara lain :
1)        Data dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumatera Utara hampir 90 persen
kawasan hutan mangrove di pantai Timur Sumatera Utara mengalami
kerusaka
n karena perubahan lahan perkebunan sawit dan tambak perikanan oleh masyarakat yang tidak memiliki prosedur dan izin dari pemerintah. Salah satu faktor terbesar ini terjadi adalah tingginya kebutuhan ekonomi dan kurangnya kesadaran kepentingan ekologis serta kepedulian masyarakat akan dampak lingkungan. Dan tanpa disadari telah merusak ekosistem kawasan mangrove pantai Timur Sumatera Utara.
2)    Perencanaan dan pengelolaan sumber daya pesisir di masa lalu bersifat sangat sektoral. Dari sini kita mengetahui bahwa pengelolaan yang sektoral ini akan mengakibatkan terjadinya perusakan hutan mangrove berat yang akan berdampak pada masa yang akan datang. Kemudian rendahnya kesadaran masyarakat tentang konversi dan fungsi ekosistem mangrove.
3)        Hutan rawa dalam lingkungan yang asin dan anaerob di daerah pesisir selalu dianggap daerah yang yang marginal atau sama sekali tidak cocok untuk pertanian dan akuakultur. Namun karena kebutuhan lahan pertanian dan perikanan yang semakin meningkat maka hutan mangrove dianggap sebagai lahan alternative. Reklamasi seperti itu telah memusnakan ekosistem mangrove dan juga mengakibatkan efek – efek yang negatif teradap perikanan di perairan pantai sekitarnya. Selain itu kehadiran saluran-saluran drainase mengubah sistem hidrologi air tawar di daerah mangrove yang masih utuh yang terletak kearah laut dan hal ini mengakibatkan dampak negative.


2. Pembahasan

Dalam ekosistem mangrove terjadi rantai makanan/aliran energy dan siklus biogeokimia. Aliran energi sangat berpengaruh dalam rantai makanan mangrove. Siklus energi berperan dalam proses fotosintesis ke tanaman mangrove dan fitoplankton. Selanjutnya siklus energi ini secara berantai menjadikan suatu proses makan memakan pada rantai makanan. Rantai makanan pada mangrove dimulai dari tumbuhan hijau sebagai sumber energi utama (produsen) bagi ekosistem mangrove. Selanjutnya rantai makanan dilanjutkan oleh bakteri dan fungi yang secara langsung menguraikan senyawa organik (detritus) yang berasal dari penghancuran luruhan daun dan ranting mangrove yang jatuh ke substrat padat (tanah) dan substrat perairan pada ekosistem mangrove, maka dapat dikatakan organisme ini sebagai produsen utama dan ditempatkan pada tingkatan trofik kedua di dalam jaring makanan. Pada mangrove, rantai makanan pada substrat padat dan substrat perairan sangatlah berhubungan.

Perkebunan kelapa sawit dan tambak dalam skala kecil tidak terlalu banyak mempengaruhi ekosistem mangrove, tapi lain halnya dengan skala besar. Konversi mangrove yang luas menjadi kelapa sawit dan tambak dapat mengakibatkan penurunan produksi perikanan  di perairan sekitarnya. Lahan mangrove yang dirubah menjadi perkebunan ini juga dapat memengaruhi produktivitas perairan estuary dan laut di sekitarnya. Seperti contoh menurunnya produksi udang laut sebagai akibat menciutnya luas hutan mangrove. ( Saparinto, Cahyo. 2007)


Kasus 1
Alasan konversi lahan mangrove menjadi perkebunan sawit

Hal yang menyebabkan terjadinya konversi lahan mangrove sebesar 1000 hektar menjadi tambak dan perkebunan kelapa sawit adalah karena hutan mangrove yang mengalami penurunan produktivitas akibat pemanfaatan atau pengeksploitasian ekosistem mangrove secara besar-besaran oleh masyarakat pesisir tanpa diikuti proses rehabilitasi kembali ekosistem mangrove tersebut. Alasan ini diperkuat oleh faktor ekonomi masyarakat pesisir Indonesia yang masih berada digaris kemiskinan. Dahulu masyarakat pesisir di wilayah Deli Serdang, Sumatera Utara bisa dengan mudah mendapatkan komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan sehari-sehari maupun untuk diperdagangkan dari hutan mangrove ini, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, potensial produktivitas mangrove mengalami penurunan sehingga masyarakat pesisir Sumatera Utara memilih alternatif pengalihan fungsi lahan mangrove menjadi pertambakan dan perkebunan sawit. Pengalihan fungsi lahan berdampak langsung kepada perubahan rantai makanan ekosistem mangrove menjadi rantai makanan ekosistem lahan yang baru.


Dampak
Dampak ekologis secara umum akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya. Selain itu, menurunnya kualitas dan kuantitas hutan mangrove telah mengakibatkan dampak yang sangat mengkhawatirkan, seperti abrasi yang selalu meningkat, penurunan tangkapan perikanan pantai, intrusi air laut yang semakin jauh ke arah darat, malaria dan lainnya.
Pada ekosistem mangrove, rantai makanan yang  terjadi adalah rantai makanan  detritus. Sumber utama detritus adalah hasil penguraian guguran daun mangrove yang  jatuh ke perairan oleh bakteri dan fungi (Romimohtarto dan Juwana 1999).
Rantai  makanan detritus dimulai  dari proses penghancuran  luruhan dan ranting mangrove oleh bakteri dan fungi (detritivor) menghasilkan detritus.  Hancuran bahan organic (detritus) ini kemudian menjadi bahan makanan penting (nutrien) bagi  cacing, crustacea, moluska, dan hewan lainnya (Nontji, 1993). Setyawan dkk (2002) menyatakan nutrient di dalam ekosistem mangrove dapat   juga berasal dari luar ekosistem, dari sungai atau laut. Lalu ditambahkan oleh Romimohtarto dan Juwana (1999) yang menyatakan bahwa bakteri dan fungi tadi dimakan oleh sebagian   protozoa dan avertebrata. Kemudian protozoa dan avertebrata dimakan oleh karnivor sedang, yang selanjutnya dimakan oleh karnivor tingkat tinggi. Karena dengan adanya lahan hutan mangrove yang dikonversi ini fauna-fauna baik itu pemangsa maupun yang dimangsa akan berpindah ke lahan yang belum mengalami kerusakan. Contohnya saja spesies monyet dan bangau mungkin tidak akan ada lagi karena spesies ikan yang ada akan berkurang dan habitat mereka telah rusak. Pengaruh bahan-bahan kimia dari pupuk pertanian juga. Secara tidak langsung akan mengubah siklus biogeokimianya karena unsur-unsur yang ada akan berubah dan berkurang.

Ternyata dengan adanya lahan perkebunan kelapa sawit ini tentu saja akan menurunkan tingkat kualitas tanah sebagai salah satu indikator dan pemegang peranan penting didalam ekosistem apalagi dengan semua aspek fungsi ekologis yang dimilikinya. Juga akan terjadi pendangkalan perairan pantai karena pengendapan sedimen yang sebelum hutan mangrove dikonversi mengendap dihutan mangrove. Dengan begitu hutan mangrove yang asalnya tempat pemijahan ikan dan udang secara alami akan beralih fungsi dan bahkan tidak berfungsi lagi sebagai tempat pemijahan. Sebagaimana kita ketahui bahwa lahan tersebut secara struktur akan berubah dan mungkin tercemar oleh bahan-bahan kimia yang berasal dari pupuk pertanian untuk lahan kelapa sawit. Sehingga dengan melihat tingkat degradasi dan konversi pada areal hutan mangrove tersebut maka harus direncanakan suatu penelitian untuk mengetahui dan mengkaji kualitas tanah sebagai akibat dari konversi mangrove yang telah dilakukan. (Anonim, 2009)

Semua ini pun akan berdampak pada segi ekonomis, karena hutan mangrove pada study kasus ini terdapat 2 aliran besar yang membelah mangrove seperti sungai untuk masuk dan keluarnya air pasang surut. Biasanya sungai ini tempat memijah ikan-ikan dan para nelayan pun sering menjaringnya untuk mendapat penghasilan. Tapi dengan adanya pengalihan/konversi menjadi lahan sawit akan menurunkan hasil tangkapan para nelayan tersebut. Demikian juga pada tambak, hanya menguntungkan pada salah satu pihak.

Secara global juga akan berdampak pada pemanasan global karena dengan adanya lahan hutan mangrove yang dikonversi akan mengurangi dan merusak ekosistem hutan mangrove tersebut. Penyerapan karbon pun akan berkurang sehingga membuat CO2 di bumi menumpuk dan adanya efek rumah kaca sehingga mengakibatkan pola perubahan iklim dunia yang akan merugikan kita semua.

Dari situ kita tahu bahwa dengan adanya lahan konversi baik itu menjadi tambak atau pun lahan perkebunan kelapa sawit. Ternyata akan merusak ekositem mangrove dan akan mengubah struktur kimia fisika dan fungsi ekologisnya yaitu rantai makanan, rantai energy dan siklus biogeokimianya. Seharusnya kita menyadari dan menyadarkan masyarakat akan fungsi dan peranan masing-masing ekosistem karena untuk ke depannya alam ini akan merugikan kita apabila kita merusaknya. Mungkin secara waktu dekat lahan kelapa sawit akan menguntungkan tapi untuk jangka panjang dan dampak yang ditimbulkan akan merugikan.  Persepsi yang menganggap mangrove  merupakan sumber daya yang kurang berguna yang hanya cocok untuk pembuangan sampah atau dikonversi untuk keperluan lain harus diluruskan. Karena apabila persepsi keliru tersebut tidak dikoreksi, maka masa depan hutan mangrove Indonesia dan juga hutan mangrove dunia akan menjadi sangat suram.

Agar rakyat Indonesia tetap mampu menjadikan hutan mangrove sebagai sumber mata pencahariannya, maka perlu pengelolaan secara berkelanjutan. Dasar yang dapat dijadikan pijakan adalah karena pengelolaan SDA hutan mangrove mempunyai tujuan utama untuk menciptakan ekosistem yang produktif dan berkelanjutan untuk menopang berbagai kebutuhan pengelolaannya.

Peran aktif stake holder ini yang sangat dibutuhkan serta dukungan masyarakat agar ekosistem mangrove ini tidak beralih fungsi dan dapat bermanfaat sebagaimana mestinya. Sudah seharusnya dari dalam pemerintah dan masyarakat ini bersama-sama segera mendorong dan memfasilitasi tersusunnya tata ruang wilayah pesisir, melakukan pembenahan dari segala aspek dan dari hal yang kecil agar tidak ada lagi penyimpangan-penyimpangan serta dapat merencanakan,  mengurus, mengelola dan merehabilitasi serta menjaga kelestarian alam ini.  Agar menjadikan kawasan hutan mangrove itu menjadi kawasan yang mampu melindungi dan mensejahterakan masyarakatnya.





Referensi Bacaan:
Abdul Hakim. 2010. Dampak Penerapan Kebijakan Konversi Hutan Pada Kerusakan Lingkungan (Studi Kasus Pelepasan Kawasan Hutan untuk Perkebunan Kelapa Sawit). http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/16/15cb03ade6bb79a61339ce703ea92fbcfaedabd2.pdf. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010
Agus Salim. 2010. Konservasi Mangrove Sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. http://www.scribd.com/doc/22477294/Konservasi-Mangrove-Sebagai-Pendukung-Sumber-Hayati-Perikanan-Pantai. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010
Edy Purwanto. 2010. Mencermati Konversi Hutan Alam Menjadi Kebun Kelapa Sawit. http://epurwanto.wordpress.com/2008/04/21/mencermati-konversi-hutan-alam-menjadi-kebun-kelapa-sawit/. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010
Endang Hilmi&Parengrengi. 2010. Kerusakan Ekosistem Mangrove di Indonesia. http://www.scribd.com/doc/11592887/Kerusakan-Ekosistem-Mangrove-Di-Indonesia. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010
Supriharyono. 2008. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar, Jakarta.
Anonim. 2009. Mangrove (http://www.blogger.com)
Anonim. 2009. Mengapa perambahan hutan mangrove untuk dialihkan menjadi kebun sawit makin merajalela? (http://id.answers.yahoo.com)
Anonim. 2009. Penilaian Kualitas Tanah Akibat Konversi Mangrove ke Tambak (http://arwansoil.blogspot.com)
Anonim. 2008. Ratusan Ha Hutan Mangrove Beralih Fungsi Menjadi Tanaman Sawitdi Desa Sei Apung Asahan ( http://m.hariansib.com )
Anonim (Sri Devi). 2008. Ekologi, Pemanfaatan dan Dampak Aktivitas Manusia terhadap Ekosistem Mangrove (http://www.analisadaily.com)
Anonim (Hakim Abdul). 2008. Lomba Tulis YPHL : Menyoal Konversi Lahan Hutan di  Indonesia (http://www.kompas.com)
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan.Jakarta.
Romimohtarto, K dan S. Juwana, 1999. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut. Puslitbang Osenologi-LIPI, Jakarta : 527 hal
Saparinto, Cahyo. 2007. Pendayagunaan Ekosistem Mangrove. Dahara Prize, Semarang.
Setyawan, A. Susilowati, A, Sutarno. 2002.  Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa. Petunjuk Praktikum Biodiversitas; Studi Kasus Mangrove. Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar